Air Mata di Tengah Rintik Hujan





Hari ini cuaca begitu cerah dan menghangatkan suasana hati gadis belia itu, melangkah perlahan setelah sakit baru hari ini menginjakkan kaki di sekolah, karena sekolah rumah kedua bagi dia dan disanalah bisa mendapatkan ilmu tentang hidup dan kehidupan. Belajar cara menghargai diri sendiri dan cara menghargai orang lain. Belajar banyak hal dari guru-guru hebat karena guru adalah orang tua kedua di sekolah. Rindu teman, canda-tawa dalam kehangatan, merindu guru-guru yang selalu membimbing dengan ikhlas. 

Tiara panggilan gadis itu, dia bukan anak yang pandai dan juga bukan anak yang hebat, tidak memiliki prestasi seperti anak-anak lain bahkan tak banyak yang diinginkannya hanya ingin berusaha menjadi dirinya sendiri dan bisa mengabdi untuk negeri ini dengan kemampuan yang dimilikinya. Ternyata hal itu tidak mudah, terkadang kehidupan tidak sesuai dengan ekspektasi dirinya. Mungkin takdir belum berpihak pada dirimu dan layak untuk dihargai orang lain. Akan tetapi teruslah belajar menghagai orang lain agar suatu saat nanti kau dihargai orang lain. 

Tiara bak disambar petir di siang bolong tapi ini memang terjadi nasib berkata lain, selama seminggu perlahan melawan sakit tiba-tiba kenyataan pahit menimpanya kembali. Dengan langkah yang lunglai Tiara meningalkan sekolah. Andai kata mampu untuk berteriak pasti akan berteriak sekeras mungkin, namun itu tidak mungkin, air matalah yang tak bisa dibendung mewakili kekecewaannya  semakin membuncah, tak peduli orang disekelilingnya.  Selama perjalanan hanya menunduk dengan tatapan kosong tak sepatah kata pun terucap, sesekali menghapus air mata, hatinya hancur perasaaannya terkoyak, tak terarah, kecewa, derai air mata yang perlahan membasahi kedua pipi mungilnya, tak kuasa rasanya melihat air mata yang tak seharusnya terjadi. Harapan Tiara selama ini pupuslah sudah, luka menganga sulit untuk pulih kembali hanya waktu yang akan membuktikan. Puing-puing yang membentenginya luluh-lantah diterpa badai dalam sekejap. Tersungkur dihadapan yang Maha membolak-balikan hati manusia, menangislah jika menangis itu mampu mengurangi rasa sakit itu.

Rintik hujan pun menjadi saksi bisu betapa keras hidup ini. Hanya bisa menatap dan menguatkan, sesekali menyeka air matanya yang seakan tak mau berhenti. Tapi yakinlah Allah lebih sayang hambanya dari siapa pun, dan akan mengabulkan segala keinginanmu. Suatu saat nanti Tiara akan paham meraih mimpi itu tidak mudah, ada pengorbanan yang menguras keringat bahkan derai air mata, membutuhkan waktu, kesabaran,  dan perjalanan yang panjang. Tidak apa-apa hari ini kau kecewa tapi suatu saat nanti kebahagiaan akan selalu bersamamu. Tetaplah bersinar seperti bintang di langit, tetaplah mengejar mimpi dan jangan berhenti untuk bermimpi. Alur yang Allah sediakan untukmu akan lebih indah. Tuhan tidak akan pernah ingkar janji, tetaplah bersujud dan bersyukur pada-Nya. Sayangilah sesama tanpa pamrih, jadilah manusia pemaaf, dan lebih bijak dalam bersikap, kelak ketika dewasa akan indah pada waktunya. Yakinlah....akan kebesaran Tuhanmu. Cukup rintik hujan yang menyaksikan derasnya air matamu, akan berganti indah seperti pelangi. 

Komentar

  1. Keren umi tika.. tulisannya menginspirasi... deras air mata akan berganti indah seperti pelangi

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nonfiksi

Buku ISBN

Pelatihan Belajar Menulis PGRI